BKSDA Sumbar Tangani Konflik Beruang Madu yang Resahkan Warga di Lubuk Sikaping

LUBUK SIKAPING – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Konservasi Wilayah (RKW) I Pasaman melakukan tindakan cepat merespons laporan kemunculan satu ekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) di Jorong IV Rimbo Aro, Nagari Tanjung Beringin Selatan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.

Penanganan ini dilakukan setelah adanya laporan warga pada Sabtu (30/5/2026) malam yang merasa resah akibat satwa dilindungi tersebut mulai mendekati area perkebunan dan pemukiman dalam tiga bulan terakhir.

Verifikasi Lapangan dan Kerusakan Tanaman Menindaklanjuti arahan Kepala Seksi Wilayah I, petugas BKSDA yang terdiri dari Yogian Yulianda, S.H., dan Iqbal, didampingi tim COP (Syahroni dan Hilman), langsung melakukan verifikasi lapangan. Berdasarkan identifikasi di dua titik koordinat, petugas menemukan bukti-bukti otentik aktivitas satwa liar tersebut.

“Di lokasi, tim menemukan beberapa pohon pinang dan kelapa yang dirusak oleh beruang. Selain itu, ditemukan bekas cakaran pada batang kayu serta kayu lapuk yang dihancurkan oleh satwa tersebut,” ujar petugas dalam laporan resminya.

Aktivitas beruang ini diduga telah berlangsung cukup lama dan intensitasnya meningkat dalam beberapa hari terakhir, hingga memicu kekhawatiran warga yang memiliki lahan perkebunan di kawasan APL (Area Penggunaan Lain) tersebut.

Upaya Pengusiran dan Mitigasi Guna meminimalisir risiko konflik antara manusia dan satwa, tim gabungan bersama masyarakat setempat melakukan upaya pengusiran pada Sabtu malam mulai pukul 20.15 WIB hingga 22.30 WIB. Langkah ini diambil sebagai strategi awal untuk menggiring satwa kembali ke habitatnya yang jauh dari aktivitas manusia.

Selain melakukan tindakan fisik di lapangan, petugas BKSDA juga memberikan edukasi dan imbauan kepada masyarakat di Jorong IV Rimbo Aro agar:

  • Meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun.
  • Tidak melakukan aktivitas di kebun seorang diri.
  • Menghindari aktivitas di luar rumah hingga larut malam.

Langkah Selanjutnya Meskipun pengusiran telah dilakukan, pihak BKSDA Resor Pasaman menyatakan akan tetap melakukan pemantauan berkala secara intensif. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah satwa masih berada di sekitar lokasi atau sudah kembali ke dalam kawasan hutan.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan masyarakat untuk memantau pergerakan satwa. Jika diperlukan, strategi penghalauan lanjutan akan dipersiapkan demi menjamin keamanan warga sekaligus menjaga kelestarian satwa Beruang Madu tersebut,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi terpantau kondusif, namun masyarakat diminta untuk tetap mengikuti arahan petugas di lapangan.

You May Like